A.
Latar Belakang
Arkeologi sebagai ilmu yang mempelajari
benda-benda tinggalan masa lampau
di banyak negara,
merupakan bidang yang sangat diminati, bahkan peminat dari luar sungguh sangat banyak
menarik perhatian. Publik secara keseluruhan pada
umumnya dapat dikategorikan sebagai
kalangan awam yang hampir tak peduli dengan keberadaan sumber daya Arkeologi.
Bahkan masyarakat pada umumnya juga tak menghiraukan bahwa sumber daya tersebut
harus dilestarikan. Maka kami sebagai generasi penerus bangsa akan berusaha
meningkatkan kepedulian terhadap sumberdaya arkeologi,
dengan cara
mempelajari, menganalisis, dan mempublikasikan segala sesuatu yang termasuk di
dalam sumberdaya arkeologi.
Ketidakpedulian publik terhadap arkeologi
menjadi
masalah yang perlu disesuaikan dengan sumberdaya yang terdapat pada setiap
daerah. Dimana, sumber daya arkeologi
tersebut sebenarnya dapat menjadi pelajaran, inspirasi, dan motivasi bagi kita sebagai generasi penerus
bangsa.
Disini telah tercantum jelas objek
yang dipilih, itupun didasarkan dengan tahap-tahap dan metode-metode yang
signifikan. Negara yang terletak di semenanjung korea ini, memiliki struktur
dan fungsi yang unik. Seiring berjalannya waktu Korea Selatan semakin dikenal
dalam dunia internasional, bukan hanya dalam bidang politik, ekonomi, pendidikian,
melainkan kebudayaan dan sejarah. Istana Changdeok atau Changdeokgung adalah salah satu objek wisata di Korea Selatan yang bergengsi. Dari
dulu hingga sekarang, istana ini selalu mengundang minat. Peminatnya bukan saja
dari dalam negeri tetapi dari luar negeri pun ada. Maka dari itu, dalam karya
tulis ini, akan disajikan seluk-beluk dari Istana Changdeok.
B.
Rumusan Masalah
Mengacu
kepada uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah adalah:
1. Bagaimana hubungan Istana Changdeok(Changdeokgun) pada masa
Dinasti Joseon?
2. Bagaimana proses pembangunan Istana Changdeok(Changdeokgung)?
C.
Maksud dan Tujuan
Dalam
penyusunan Karya Ilmiah
ini, penulis
memiliki
maksud dan tujuan tertentu, yakni:
1.
Mengoptimalkan
pengetahuan generasi penerus bangsa dalam bidang Arkeologi.
2. Memacu
rasa keingintahuan para generasi penerus
bangsa untuk meneliti dan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan Arkeologi.
3. Dan
pada khususnya melestarikan serta
memperkenalkan objek yang terdapat pada Istana Changdeok(Changdeokgung) di
kalangan nasional maupun
internasional.
D.
Manfaat
Penulisan
Selain
tujuan yang ingin penulis
capai tentunya juga mempunyai
manfaat-manfaat untuk penulis
khususnya dan masyarakat pada umumnya,
antara lain:
1.
Menyajikan hal-hal
baru dalam proses pembelajaran yang di
terima.
2.
Membantu meningkatkan
kuantitas dan kualitas bagi para pelajar dalam pembangunan Arkeologi kedepan.
3.
Dan khususnya dapat
mengetahui segala sesuatu tentang Istana Changdeok(Changdeokgung).
BAB I I: PEMBAHASAN
A.
Istana Changdeok(Changdeokgung) pada masa Dinasti Joseon.
Istana Changdeok(Changdeokgung)
Hangul :창덕궁
Hanja :昌德宮

|
Menyusul pembangunan Istana Gyeongbok tahun
1395 oleh Raja Taejo (pendiri Dinasti Joseon), istana Changdeok didirikan sebagai balai
angin (istana kedua).
Di tahun
1392, Yi Bangwon atau Taejong membantu ayahnya untuk menggulingkan
Goryeo dan mendirikan sebuah dinasti yang baru, Joseon. Ia mengharapkan
ditunjuk sebagai pewaris tahta karena ialah yang paling banyak berkontribusi
atas pendirian Joseon, namun ayahnya Taejo dan Perdana Menteri Jeong Do-jeon menyayangi putra kedelapan Taejo dan saudara
tiri Yi Bangwon (putra kedua Ratu Sindeok) Yi Bangseok sebagai putra mahkota di
tahun 1392. Kekuasaan Gyeongbokgung
makin memburuk. Konflik ini meningkat karena Jeong Dojeon, yang
meruncingkan dan meletakkan ideologikal, institusional, dan legal fondasi atas
dinasti baru lebih daripada yang lainnya, melihat Joseon sebagai sebuah negara
yang dipimpin oleh para menteri yang ditunjuk oleh raja ketika Yi Bangwon ingin
mendirikan monarki yang mutlak dipimpin langsung oleh raja. Masing-masing pihak
sadar akan kebencian masing-masing dan siap untuk menjadi yang menyerang
duluan. Setelah kematian mendadak Ratu Sindeok, dan ketika Raja Taejo masih
dalam suasana berkabung atas kematian istri keduanya, Yi Bangwon menyerang
duluan dengan merampok istana dan membunuh Jeong Do-jeon dan para pendukungnya
juga kedua putra Ratu Sindeok termasuk putra mahkota di tahun 1398. Peristiwa
ini dikenal dengan nama Pertikaian
Pertama Para Pangeran.
Terperanjat
dengan kenyataan bahwa putra-putranya saling bunuh demi mendapatkan mahkota,
dan kelelahan fisik dari kematian istri keduanya, Raja Taejo berabdikasi dan
segera memahkotai putra keduanya Yi Bang-gwa, atau Raja Jeongjong, sebagai pemimpin yang baru. Satu dari
tindakan pertama Raja Jeongjong sebagai monarki adalah mengembalikan ibukota ke
Gaeseong, dimana ia
percaya lebih nyaman disana. Satu dari Dinasti Goryeo, sekali lagi pada
tahun 1400 dengan dalih keunggulan geografis itu, padahal sebenarnya, untuk
menghindari perebutan kekuasaan. Taejong
(Yi Bang-won) segera mengambil alih tahta kembali ke Hanseong (sekarang
Seoul) mempunyai istana baru bernama Changdeokgung bukan bernama Gyeongbokgung
karena ia telah membunuh saudara-saudara tirinya di Gyeongbokgung yang
pembangunannya dipimpin oleh Jeong Do-Jeon, yang saingan raja sebelumnya. Namun
Yi Bangwon mempertahankan kekuasaan sebenarnya dan segera terlibat di dalam
konflik dengannya yang tidak puas dengannya, Yi Bang-gan, yang juga haus akan
kekuasaan. Di tahun 1400, Jenderal Bak Po, yang kecewa oleh Yi Bangwon karena
tidak memberinya cukup penghargaan atas jasanya di dalam Pertikaian Pertama
Para Pangeran, berkomplot dengan Bangwon, Yi Bang-gan (Pangeran Hoean) dan
memberontak melawannya yang dikenal dengan nama Pertikaian Kedua Para Pangeran. Yi Bangwon berhasil mengalahkan
pasukan Yi Bangseok, kemudian mengeksekusi Bak Po dan membuang Bang-gan ke
pengasingan. Raja Jeongjong, yang cemas akan kekuasaan saudaranya, kemudian
mengangkat Yi Bangwon sebagai putra mahkota dan mengabdikasikan dirinya di
tahun yang sama. Yi Bangwon naik tahta sebagai Raja Taejong, raja ketiga di
Kerajaan Joseon.
Pada tahun 1592 istana Changdeok dibakar saat
invasi Jepang dan direkonstruksi pada tahun 1609 oleh Raja Seonjo dan Raja
Gwanghaegun. Pembakaran berikutnya adalah pada tahun 1623 karena pemberontakan
Raja Injo terhadap Gwanghaegun. Istana ini juga diserang oleh Qing Manchu tapi
sepanjang sejarahnya istana ini telah rekonstruksi dan diperbaiki beberapa kali
tetapi berdesain seperti awal. Pusat pemerintahan pada lokasi Changdeokgung hanya
sampai 1872, ketika itu Gyeongbokgung dibangun kembali. Kaisar Korea terakhir,
Kaisar Sunjong tinggal di istana tersebut sampai kematiannya pada tahun 1926.
B.
Struktur Istana
Changdeok(Changdeokgung)
Changdeokgung
(Istana Changdeok) dibangun pada oktober tahun 1405, itu berarti sekitar lebih
dari 600 tahun yang lalu. Pembangunannya selesai pada tahun 1412. Istana milik Dinasti
Joseon ini adalah satu dari lima Istana besar yang dibangun sebagai tempat tinggal
keluarga kerajaan Dinasti Joseon. Dinasti Joseon adalah kerajaan terakhir di
Korea yang berdiri pada tahun 1392 dan bertahan hingga tahun 1910 dan merupakan
Dinasti terlama yang bertahan di Asia Timur.
Istana Changdeokgung atau juga disebut changduk berada di dalam
taman besar di Jongno-gu, di Seoul, ibukota republik Korea Selatan. Istana ini
dirancang sebagai tempat sejarah urutan 122 dan mempunyai luas keseluruhan
sebesar 580.000 m2. Meskipun halaman istana utama tidak termasuk
“Kebun Rahasia” memiliki area 120.000 m2. Istana Changdeok terletak
di sebelah timur Gyeongbokgung sehingga
sering disebut dengan Donggung atau Istana Timur. Makna dari
Changdeokgung (昌德宮) adalah Istana
Kebajikan yang Berlimpah atau Istana
Kemakmuran. Istana Gyeongbok adalah istana utama dan dikelilingi
oleh kuil-kuil leluhur dan kantor-kantor pemerintahan. Namun istana
yang disukai dan ditinggali lebih lama bukan Gyeongbok, melainkan Changdeok
sebab merupakan tempat favorit dari raja-raja dinasti Joseon, selain itu istana
tersebut sangat murni dan kental ciri khasnya dari keseluruhan istana-istana
yang ada di Korea.

Gambar 1.3 Changdeokgung dari sisi depan
Istana
Changdeokgung, dirancang dan dibangun berdasar perincian yang secara turun temurun
diteruskan dari tiga periode kerajaan Korea yang mempertahankan banyak
elemen dan tidak tergabung dalam Gyeongbokgung yang lebih
kontemporer. Salah satu elemen tersebut adalah kenyataan bahwa bangunan
Changdeokgung berbaur dengan topografi dari situs bukan terpaku pada alam, secara konsekuensi memberikan keunikan Korea dan menyatunya
Istana Changdeok dengan bentang alam sekitar sehingga terlihat berpadu
harmonis. Hal ini disebabkan,
istana Changdeokgung merupakan kekayaan masyarakat Korea yang bersejarah
sehingga renovasi yang dilakukan sangat memperhatikan dan mempertahankan bentuk
aslinya. Changdeokgung sama seperti Lima Istana Besar lainnya di Seoul, hancur selama
pendudukan Jepang. Saat ini, hanya 30% dari struktur Istana yang masih ada.
Sekarang ini terdapat 13 bangunan
yang tersisa di istana dan 28 paviliun di taman. Istana dibangun antara Puncak
Maebong, Gunung Bugaksan di belakang dan memiliki Rivulte Geumcheon yang
mengalir di depan dipengaruhi oleh prinsip "baesanimsu" (배산임수) dalam
teori Feng Shui. Kontras dengan Gyeongbokgung yang memiliki perencanaan
teratur, bangunan di Changdeokgung lebih bebas tanpa sistem yang teratur.
Meskipun strukturnya tampak kacau, semua bangunan yang selaras dengan
lingkungan sekitar mereka. Changdeokgung
terdiri dari area pemerintah (治 朝, chijo) yang berpusat pada Injeong-Jeon (ruang utama), dan Seongjeong-Jeon (kantor pembantu di aula utama),
kerajaan area pribadi (寝殿, chimjeon,
yang berarti 'rumah kamar tidur raja'), daerah Nakseonjae di timur, dan utara
Huwon luar perbukitan. Sebagian besar bangunan resmi seperti Injeongjeon, aula
utama Changdeokgung, Seonjeongjeon, raja kantor, dan banyak kantor pemerintah (궐내각사,
gwollaegaksa) ditempatkan di bagian depan istana, di luar ada pengadilan privat
untuk raja dan ratu. Rumah raja seperti Seonjeongjeon, Huijeongdang, dan
Nakseonjae dikelilingi dalam banyak bangunan dan pengadilan untuk menjaga
apabila ada yang menerobos dari luar. Gaya Changdeokgung penuh kesederhanaan
karena ideologi Konfusianisme.
Bangunan-bangunan
tersebut diperhatikan termasuk gerbang Donhwa-mun (dibangun pada tahun 1412,
dibangun kembali pada tahun 1607, dengan sebuah lonceng tembaga seberat 9 ton
pendek atau 8 metrik ton), kemudian jembatan Geumcheongyo yang dibangun pada 1411., Huijeong-dang (tempat tinggal pribadi raja, yang kemudian
digunakan sebagai gedung pertemuan), Daejo-Jeon
(tempat tinggal), dan Nakseon-jae
(bekas kediaman keluarga kekaisaran korea termasuk Putri Bangja). Serta Naeuiwon (Rumah Sakit). Di tempat
inilah para dokter istana memberikan perawatan medis terhadap raja dan
keluarganya.

Bagian dalam
area Nakseon-jae Tampak luar Naeuiwon
1.
Paviliun Buyongjeong dan kolam di
Buyeongji daerah Huwon

|
Paviliun Buyongjeong di
bangun di dekat Buyongji (Kolam).
Buyongji berukuran 34.5 m x 29.4 m dengan bentuk persegi yang
ditengah-tengahnya terdapat pulau berdiameter 9 m. Kolam ini dibangun tahun
1707 bersama dengan Taeksuje yang sekarang merupakan tempat pavilion Buyongjeong.
Taeksuje dipugar oleh Raja Jeongjo dan tahun 1792 dibangun Buyongjeong.
Pemandangan makin indah karena letak yang berbatasan. Di Utara adalah Juhamnu, Yeonghwadang di bagian timur dan Buyongjeong di
selatan dengan refleksi permukaan.
2.
Gerbang Donhwamun-Gerbang Istana Utama
Dibangun pada 1412, Donhwamun
memiliki paviliun bertingkat dua tipe struktur kayu, dan merupakan yang
terbesar dari semua gerbang istana. Donhwamun itu terbakar habis selama invasi
Jepang ke 1592 dan dipulihkan pada 1608.
3.
Jembatan Geumcheongyo - jembatan tertua
yang masih ada di Seoul.

Gambar 1.7 Geumcheongyo
Jembatan ini dibangun
diatas aliran mata air dari utara dan dilingkupi “Oedang” yaitu bangunan
terluar istana. Konsep jembatan tersebut berasal dari kepercayaan kuno bahwa
suatu tempat yang didirikan jembatan tersebut membawa keberuntungan bagi
istana. Adapun jembatan ini mempunyai ukuran panjang 12,9 m dan lebar 12,5 m.
Jembatan ini dikonstruksi pada tahun 1411 oleh Raja Taejong. Dan Geumcheongyo
merupakan jembatan batu tertua yang masih ada di Seoul hingga sekarang.
Bangunan dari jembatan ini dihiasi pula dengan arca. Seperti “Haetae” arca yang
dibangun di bagian selatan, disimbolkan sebagai binatang yang sangat mistis.
Kemudian “Hyeounmu” arca kura-kura yang berada di utara.
4.
Injeongjeon

Gambar 1.8
Ruang dalam Injeongjeon
Aula takhta Changdeokgung, itu digunakan untuk urusan negara utama
termasuk penobatan raja baru dan menerima utusan asing. Awalnya dibangun pada
1405, itu dibangun kembali pada tahun 1610 setelah habis terbakar selama invasi
Jepang 1592, dan ketiga kalinya pada 1804 setelah dihancurkan oleh api.
5.
Seonjeongjeon
Sebuah kantor untuk pejabat yang berkuasa, raja
mengadakan pertemuan dengan menteri sehari-hari, melaporkan urusan negara dan
seminar di sini.
6. Huijeongdang
Tadinya
tempat tidur raja kamar, itu menjadi tempat kerjanya setelah Seonjeongjeon
dianggap terlalu kecil untuk menjalankan urusan negara rutin. Huijeongdang asli
dihancurkan oleh api di tahun 1917. Struktur yang direkonstruksi benar-benar
berbeda dari aslinya karena pengaruh Barat baru-baru ini. Lantai kayu dan
karpet, kaca jendela, dan chandelier dapat dilihat di dalam gedung.
7. Daejojeon
- kediaman resmi ratu.
Daejojeon merupakan
tempat peristirahatan ratu yang berlokasi didepan Huijeongdang, berada di pusat
istana. dan juga sebagai tempat raja tidur dan sebagai tempat pendidikan
pangeran.
Di belakang
istana terdapat 78-acre (32 ha) Huwon (后 苑, kebun samping) yang awalnya dibangun untuk
digunakan keluarga dan istana kerajaan yang perempuan. Menggabungkan taman
kolam teratai, paviliun, dan lanskap rumput, pohon, dan bunga. Lingkungan dan
istana itu serasi. Berbagai upacara yang diadakan oleh raja diadakan
di Huwon. Pada periode awal dinasti Joseon, inspeksi militer dengan raja
sendiri yang hadir telah dilakukan berkali-kali. Raja Sejo punya pasukan yang
berparade yang diperintah dia di kebun. Selain itu, perjamuan makan, bermain
permainan memanah, atau menikmati kembang api juga dilakukan di Huwon.

Gambar 1.12 Biwon. Gambar
1.13 Huwon
8. Ongnyucheon
Ongnyucheon ("Jade Stream") kawasan ini
sangat menarik. Saluran air berbentuk U yang dibangun pada tahun 1636 untuk
cangkir anggur yang mengambang, dengan air terjun kecil dan sebuah puisi yang
tertulis di batu di atasnya. Daerah juga mengandung lima paviliun kecil.
Lebih dari 300 tahun
Istana Changdeok adalah pusat kedudukan kerajaan. Istana Changdeok dimasukkan
dalam daftar Situs Warisan
Dunia oleh UNESCO pada tahun 1997. Menjadi istimewa karena dalam situs tersebut, bangunan
terintegrasi dengan lingkungan.
BAB
III : PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis ambil dalam penyusunan
Karya Ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1. Istana Changdeokgung atau juga disebut changduk berada di Seoul,
ibukota republik Korea. Istana ini dibangun sejak dinasti Joseon periode
1395-1910.
3. Dalam
pembangunan Changdeokgung, terjadi pertikaian-pertikaian antara raja-raja Dinasti Joseon.
4. Istana Changdeokgung merupakan tempat favorit dari raja-raja dinasti,
karena istana tersebut sangat murni dan kental ciri khasnya dari keseluruhan
istana-istana yang ada di Korea.
Istana Changdeokgung, dirancang dan dibangun berdasar perincian yang secara turun temurun diteruskan dari tiga periode kerajaan Korea, dan secara konsekuensi memberikan keunikan Korea. Karena raja-raja melakukan tugas pemerintahan di Istana utama, Kyongbok, maka, Istana Changduk menjadi tidak banyak digunakan. Setelah terjadi kebakaran di Istana Kyeongbok dan Changyeong akibat serbuan Jepang pada tahun 1592, Istana Changduk dibangun kembali.
Istana Changdeokgung, dirancang dan dibangun berdasar perincian yang secara turun temurun diteruskan dari tiga periode kerajaan Korea, dan secara konsekuensi memberikan keunikan Korea. Karena raja-raja melakukan tugas pemerintahan di Istana utama, Kyongbok, maka, Istana Changduk menjadi tidak banyak digunakan. Setelah terjadi kebakaran di Istana Kyeongbok dan Changyeong akibat serbuan Jepang pada tahun 1592, Istana Changduk dibangun kembali.
5. Terdapat 13 bangunan yang tersisa di istana dan 28
paviliun di taman. Namun itu hanya 30 % dari
sisa bangunan sebelumnya yang sudah dibangun kembali.
6.
Changdeokgung juga termasuk dalam daftar situs warisan dunia
oleh UNESCO pada tahun 1997.
B.
Saran
1. Changdeokgung sebagai
salah satu objek wisata, dan juga salah satu budaya leluhur yang perlu di
lestarikan, diharapkan agar dapat dikembangkan sebagaimana mestinya tanpa
merubah struktur bangunan yang telah ada.
2. Kepada seluruh warga dan bangsa khususnya kepada masyarakat
Korea Selatan dapat juga diharapkan untuk turut serta menjaga serta
memelihara Istana Changdeokgung tersebut bagi kehidupan budaya di muka bumi ini
hingga dimasa yang akan datang.
http://id.wikipedia.org/wiki/Changdeokgung
http://id.wikipedia.org/wiki/arkeologi
http://archive.kaskus.us/thread/3711022
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=337107569
http://www.antaranews.com/berita/1289535652/
http://korea.fib.ugm.ac.id/index.php/istana-changdeokgung/
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Juhamnu-001.jpg
http://my.opera.com/gonsik/albums/showpic.dml?album=680909&picture=10840665
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://farm4.static.flickr.com/3231/2975046272_3bebccdfb9_z.jpg%3Fzz%3D1&imgrefurl=http://www.flickr.com/photos/68558939%40N00/2975046272/&usg=__YQLL9OBRbIgDEw1YN5e2hYqwPjs=&h=428&w=640&sz=118&hl=id&start=5&zoom=1&itbs=1&tbnid=12IGXkiLFDyMiM:&tbnh=92&tbnw=137&prev=/images%3Fq%3DNaeuiwon%26hl%3Did%26sa%3DG%26biw%3D1280%26bih%3D610%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&ei=Kmh9TbHzM4flrAfal833BQ
http://anggraini-liebe.blogspot.com/2009/05/changdeokgung-palace.html












ssss.jpg)
0 comments:
Post a Comment
Give Your Comments Guys